jump to navigation

Jantung Dan Ginjal December 29, 2009

Posted by paspitu in Kabar dari teman.
Tags:
add a comment

Penyakit Ginjal dan Penyakit Jantung Memiliki Dampak Akhir yang Tidak Baik

jdokter/– Penyakit Ginjal dan penyakit kardiovaskuler terkait dengan faktor resiko, masing-masing saling memberikan kontribusi, demikian menurut dua studi.

Hal-hal yang harus dilakukan

        Jelaskan kepada pasien yang berkepentingan bahwa efek kardiovaskuler dan penyakit ginjal kelihatannya saling mempengaruhi, masing-masing saling berkaitan.

        Apabila pasien menanyakan, jelaskan bahwa faktor resiko yang berubah pada kedua penyakit tersebut dapat membantu mengurangi hasil negative untuk kedua penyakit jantung dan ginjal.

Tiga peringkat dari penyakit ginjal kronis – anemia, mengurangi penyaringan glomerular, dan microalbuminuria – yang secara independen terkait dengan penyakit jantung, demikian temuan Peter A. McCullough, M.D., dari William Beaumont Hospital dan rekan.

Ketika terdapat ketiga peringkat tersebut, sekitar tiga perempat pasien mengalami penyakit kardiovaskuler, lapor mereka pada tanggal 11 Juni dalam terbitan Archieve of Internal Medicine.

Terlebih lagi, pasien yang mengalami kombinasi tiga peringkat tersebut memiliki daya tahan paling rendah setelah berakhirnya masa 30 bulan, sekitar 93%, dibandingkan dengan kelompok peringkat lainnya.

Hubungan diantara penyakit ginjal kronis dengan penyakit kardiovaskuler bisa dua arah, pertama kerusakan fungsi ginjal yang meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler dan sebaliknya. Tulis Dr. McCullough dan rekan. Meskipun demikian, sebagian besar pasien yang menderita penyakit ginjal kronis meninggal karena komplikasi penyakit jantung dibanding gagal ginjal, tambahnya.

Dalam suatu kelompok masyarakat yang didaftar sejak 2000 sampai 2003, para peneliti telah mempelajari kelompok yang terdiri dari 37.153 orang (rata-rata berumur 52.9 pada laki-laki dan 68.7%nya perempuan) dilakukan screen oleh National Kidney Foundation’s Kidney Early Evaluation Program.

Totalnya 1.835 (4.9%) memiliki riwayat myocardial infarction, 1.336 (3.6%) memiliki riwayat stroke dan 2.897 (7.8%) memiliki riwayat MI atau stroke.

Para pasien, mengikuti rata-rata 16.0 bulan, dinilai dengan tiga peringkat penyakit ginjal kronis:

        Peringkat Glomerular filtration (eGFR) diestimasikan berdasarkan tingkat creatini darah; 30 sampai 59 mL/min per 173m2;

        Anemia, ditentukan dengan tingkat hemoglobin darah (12.8 g/dL atau kurang).

        Microalbuminura atau protein albumin dalam urin (30 mg/L atau lebih).

Dari peserta yang mengikuti rata-rata 47.5 bulan, 5.504 (14.8%) memiliki peringkat eGFR kurang  dari 60mL/min per 173m3, suatu pertanda fungsi ginjal menurun. Selain itu, 4.588 (13.1%) mengalami anemia dan 15.959 (49.5%) mengalami microalbuminuria. Banyak variasinya, analisas yang dilakukan menurut umur menemukan bahwa berikut secara independen terkait dengan penyakit cardiovaskuler: jenis kelamin laki-laki (rasio lebih [OR], 1.64; P<0.001), merokok (OR. 1.73; P<0.001), indek masa tubuh (OR 1.01; P=0.03), diabetes (OR, 1.66; P<0.001), hipertensi (OR, 1.77; P<0.001).

Masing-masing dari ketiga peringkat jantung secara independen juga terkait dengan penyakit kardiovaskuler; dengan estimasi GFR lebih rendah (OR, 1.37; P=0.001), tingkat hemoglobin rendah (OR 1.45; P<0.001), dan elevasi microalbuminuria (OR, 1.28; P=0.01).

Analisa daya tahan menemukan bahwa penyakit kardiovaskuler (OR) 3.02; P=0.003), penyakit ginjal kronis (OR 1.98; P=0.05), dan kombinasi (OR, 3.80; P<0.001) merupakan predictor independen kematian.

Orang yang menderita kombinasi ketiga gejala penyakit ginjal kronis memiliki batas minimum peningkatan resiko kematian selama mengikuti dalam jangka pendek dan daya tahan terendah sekitar 93% pada akbir masa 30 bulan, lapor para peneliti.

Sebagian penjelasan untuk penyakit ginjal kronis dapat memperburuk atherosclerosis dan penyakit myocardial termasuk percampuran yang tidak terkontrol, atau efek comordibity yang terjadi pada pasien penderita ginjal, khususnya pasien yang usia lanjut. Penjelasan lain adalah therapeutic nihilism, yang berarti bahwa pasien yang menderita penyakit ginjal diberikan terapi cardioprotektif lebih sedikit, kata para peneliti.

Masih penjelasan lain, mereka menyarankan, termasuk kemungkinan bahwa perawatan kelebihan racun atau toleransi tidak dapat membatasi penggunaan terapi tertentu. Hal ini juga memungkinkan bahwa pathologi vaskuler yang unik yang terjadi pada penderita penyakit gainjal kronis dapat memainkan sebagian.

Batasan studi adalah batasan umum untuk studi seleksi/screening penduduk. Ukuran penyaringan glomerular bisa mengakibatkan kesalahan klasifikasi pada pasien, dengan menurunkan nilai actual, khususnya karena jumlah individunya kecil, mendorong terjadinya estimasi dalam kelompok tidak stabil.

Kekurangan lainnya, kata para peneliti adalah penggunaan dipstick urine untuk mendeteksi microalbuminuria.

 “Data ini menyatakan bahwa screening untuk penyakit kardiovaskuler memiliki hasil yang akurat diantara pasien yang terdapat tanda peringkat resiko ini tetapi tidak melaporkan riwayat gejala penyakit kardiovaskuler,” demikian kesimpulan Dr. McCullough dan rekannya.

Dalam studi tersebut diterbitkan dalam jurnal yang sama, Daniel E.Weiner, M.D., dari Tufts-New England Medical Center di Boston, dan rekan, melaporkan adanya penyakit kardiovaskuler di hampir 13% dari pasien terkait dengan penurunan fungsi ginjal dan lebih dari 50% peningkatan resikonya berkembang menjadi penyakit ginjal, yang diukur dengan tingkat serum creatinine dan eGFR.

Penemuan itu berasal dari studi yang terdiri dari 13.826 pasien yang ditempatkan dalam studi yang dilakukan dalam masyarakat yang besar, resiko Atherosclerosis dalam Communities Study dan Cardiovascular Health Study.

Rata-rata lamanya mengikuti sekitar sembilan tahun, 520 pasien (3.8%) mengalami penurunan fungsi ginjal, diuraikan dengan menigkatnya tingkat serum creatinine minimal 0.4 mg/dL, dan 314 individu (2.3%) berkembang menjadi penyakit ginjal, demikian dilaporkan para peneliti.

Penyakit kardiovaskuler dasar diantara 1.728 pasien (12.9%) yang menderita penyakit terkait dengan peningkatan resiko dari seluruh hasil (rasio lebih 1.70; CI1.36-2.13), OR 1.75 (CI.1.32-2.32) untuk tingkat serum creatinine, dan OR dari 1.28 dan 1.54 untuk pengurangan GFR karena penurunan dalam fungsi ginjal dan berkembangya penyakit ginjal.

Data itu diperoleh dari studi akses terbatas, yang dilakukan pada masyarakat, berbanding lurus, Resiko Atherosclerosis dalam Communities Study dan Crdiovascular Health Study. Para pasien direkrut dari tahun 1987 sampai 1990 dan diikutkan dengan jarak tiga tahun dengan rata-rata 9.3 tahun.

Penyakit kardiovaskuler dasar diantaranya serangan stroke, angina, claudiction, transient  ischemic, coronary  angioplasty atau bypass dan dikenal atau MI jinak.

Hasil studi itu termasuk penurunan fungsi ginjal (kenaikan dalam tingkatan serum creatinine minimal 0.4 mg/dL) dan perkembangan penyakit ginjal (kenaikan dalam tingkatan serum creatinine minimal 0.4 mg/dL dimana tingkatan serum creatinine dasar kurang dari 1.4 mg/dL pada laki-laki dan kurang dari 1.2 mg/dL pada perempuan), dan serum creatinine akhir yang melebihi level ini.

Yang kedua, penurunan fungsi ginjal diakibatkan karena penurunan perkiraan tingkat penyaringan glomerular.

Perkembangan penyakit ginjal diakibatkan karena pengurangan eGFR minimal 15mL/min per 1.73m2 dimana tingkat dasarnya minimal 60 mL/min per 1.73m2 dan GFR akhir dibawah level ini.

Albuminuria tidak diukur dalam studi in.

Penyakit kardiovaskuler secara independen terkait dengan penurunan fungsi ginjal dan perkembangan penyakit ginjal kata Dr. Weiner and rekan.

Diantara batasan studi, para peneliti mencatat fakta bahwa tidak ada definisi penurunan fungsi ginjal yang telah diterima, meskipun demikian definisi yang dipilih untuk studi ini minimal 0.4 mg/dL yang kemungkinan melebihi tingkatan yang bisa berubah-ubah.

Selanjutnya, dimungkinkan bahwa banyak individu kemungkinan salah mengelompokkan definisi eGFR untuk penurunan fungsi ginjal, kata mereka.

Studi saat ini, kata para peneliti, menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskuler secara independen terkait dengan penurunan fungsi ginjal yang berkembang menjadi penyakit ginjal.

Penemuan, kata mereka, mengidentifikasi pertumbuhan penduduk dapat memberikan manfaat dengan adanya peningkatan pengamatan untuk factor resiko kardiovaskuler dan meningkatnya kesadaran akan factor resiko yang terkait dengan penyakit ginajl.

 “Karena pasien ini biasanya dibawah perawatan dokter dan ahli jantung, perting untuk memeprhatikan peningkatan resiko penyakit jantung dalam penduduk ini, dengan tujuan mencegah perkembangan, menangani tahapan penyakit ginjal yang timbul dan melakukan persiapan yang cukup pada individu yang mengalami gagal  ginjal untuk dilakukan penanganan tepat waktu,” demikian kesimpulan para peneliti.

Dalam editorial tambahan, Barry I Freedman, M.D dan Thomas D.DuBose Jr. M.D., dari Wake Forest University di Winston-Salem, N.C., menulis bahwa dua laporan ini menekankan efek interaktif dari penyakit ginjal dan resiko penyakit kardiovaskuler pada lebih dari 50.000 pasien. “dengan memberikan pandangan baru dalam hubungan diantara penyakit ginjal dengan casculature.”

Adanya penyakit cardiovaskuler atherosclerotic sekarang seharus diakui sebagai resiko factor tersendiri yang berkembang manjadi penyakit ginjal dan pada kedua pasien seharusnya dilakukan screen  dan dilakukan perawatan, kata mereka.

Kesempatan untuk mengurangi keparahan penyakit ginjal akut dan penyakit kardiovaskuler akan dimaksimumkan ketika dokter, nepthrologist, dan cardiologist  melakukan perawatan dasar yang bekerja bermitraan untuk mengurangi dan merawat factor resko penyakit vascular yang dapat berubah-ubah, termasuk penyakit yang diakibatkan oleh penyakit ginjal, kata Drs. Freedman and Dubose.

Selain itu, mereka menulis, “potensi untuk mencapai tujuan perawatan saat ini pada setiap individu yang berisiko untuk penyakit nephropathy dan kardiovaskuler yang menggunakan banyak pendekatan yang terfokus menjanjikan pengurangan yang lebih besar dalam penyakit kardiovaskuler di masa yang akan datang dan kejadian penyakit ginjal pada tahap akhir.”

source: http://jdokter.com/index.php?option=com_content&task=view&id=129&Itemid=2

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.