jump to navigation

Biografi Barack Hussein Obama Junior November 5, 2008

Posted by paspitu in Jagongan.
Tags:
trackback
thankyou_bannerobama1
Tentang Harapan Biografi Barack Hussein Obama Junior, The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming the American Dream (2006), telah sembilan pekan bertengger di urutan teratas buku nonfiksi terlaris versi The New York Times. Bangsa Amerika Serikat tak pernah bosan didongengi kisah “Obambi” ini. Film Bambi bercerita tentang seekor anak rusa yang lugu yang terpaksa berkenalan dengan kejamnya rimba belantara. Obama calon presiden favorit Partai Demokrat meski dianggap mentah politik. Ibu Obama bulé asal Kansas, ayahnya Muslim asal Kenya, dan bapak tirinya asal Indonesia. Waktu kecil ia hidup melarat di Jakarta, saat dewasa hidup berlimpah sebagai pengacara top lulusan Harvard. Setiap orang terkesiap mendengar ia menyebutkan “Hussein Obama” (mirip Saddam Hussein dan Osama bin Laden) sambil mengulurkan tangan saat kampanye menjadi anggota DPR di Springfield, Illinois. Kini ia “Obambi Kecil” yang siap menghadang “Raksasa Hillzilla” Hillary Clinton. Buku Hope ibarat skripsi berpredikat summa cum laude yang meluluskan Obama sebagai pemimpin masa depan. Anda tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami perkembangan politik mutakhir negeri Abang Sam. Karier politik Obama tidaklah seringan bahasa yang dia pakai di dalam bukunya. Ia terpilih sebagai Senator Negara Bagian Illinois setelah meniti karier dari bawah, mengingatkan orang pada kisah sukses ala “mimpi Amerika”. Obama bukan dari keluarga politik yang mapan seperti trah Bush atau Kennedy. Namun, ia dielu-elukan sebagai penjelmaan dari Presiden John Fitzgerald Kennedy. Kennedy terkenal dengan kalimat “jangan tanya apa yang negara lakukan kepada kamu, tetapi tanyalah apa yang kamu lakukan untuk negara”. Obama meroket ketika dipilih sebagai pengucap pidato kunci pada Konvensi Partai Demokrat tahun 2004. “Tak ada orang hitam Amerika dan orang putih Amerika dan orang Latin Amerika dan orang Asia Amerika yang ada hanyalah Amerika Serikat,” kata Obama di hadapan peserta konvensi. Kalimat pamungkas ini sering dikutip hampir setiap orang yang berjumpa dengannya. “Saya tak punya pilihan lain kecuali memercayai inilah visi Amerika. Sebagai anak lelaki hitam dan perempuan putih, sebagai orang yang lahir di Hawaii yang multirasial bersama saudara tiri yang separuh Indonesia tetapi kerap dikira orang Meksiko atau Puerto Riko, mempunyai ipar dan keponakan keturunan China, memiliki saudara-saudara yang wajahnya mirip Margaret Thatcher… saya tak bisa setia hanya kepada ras tertentu.” Obama meniti seutas tali di atas jurang pemisah antara liberalisme versus konservativisme. Ia bukan “Reagan Democrat” dan juga tak masuk lingkar dalam mantan Presiden Bill Clinton. Lewat Hope ia menyegarkan kembali harapan bangsa AS yang pesimistis menyaksikan pertikaian ideologis kanan melawan kiri. Obama tak mengajukan pemikiran-pemikiran strategis, hanya menulis refleksi seorang warga yang “tak pernah berhenti resah”. Sebuah refleksi menarik terdapat dalam bab The World Beyond Our Borders. Obama, tak bisa lain, menulis sebuah esai panjang mengenai tanah airnya yang ketiga (setelah AS dan Kenya), yakni Indonesia. Ia ingin dipandang sebagai calon presiden yang paham masalah internasional. Sepanjang sepuluh halaman ia mengulas evolusi Indonesia dari sebuah kampung besar, lalu menjadi antek politik dan ekonomi AS, kemudian mengalami krisis moneter dan reformasi, sampai menjadi negara yang tak toleran lagi. Rumahnya di sebuah kampung Jakarta tak berkakus duduk, di halaman belakang ada beberapa ekor ayam peliharaan, dan di dekat jendela banyak jemuran bergelantungan. “Jenderal-jenderal Indonesia membungkam hak asasi, birokrasinya penuh korupsi,” tulis Obama. “Tak ada uang untuk masuk ke sekolah internasional, saya masuk sekolah biasa dan bermain dengan anak-anak pembantu, penjahit, atau pegawai rendahan,” tulisnya. Waktu keluarganya “naik kelas”, barulah Obama menikmati enaknya jok mobil hasil jerih payah ayah yang keluar dari TNI untuk menjadi karyawan biasa. Kini Indonesia tak sama lagi. “Indonesia terasa jauh dibandingkan dengan 30-an tahun yang lalu. Saya takut ia menjadi tanah yang asing,” tulis Obama. Obama bukan tanpa kelemahan. Banyak warga Afrika-Amerika di AS menilai ia “kurang hitam” karena tak 100 persen menjadi dewasa di sana. Usianya yang 45 tahun juga dianggap terlalu muda untuk bertempur melawan Joseph Biden (64), Chris Dodd (62), Dennis Kucinich (60), Bill Richardson (59), Hillary Clinton (59), Tom Vilsack (56), atau John Edwards (53). Ada gagasan ia magang dulu jadi calon wakil presiden, mendampingi “Hillzilla”. Analis James Carville mengatakan, strategi politik Demokrat sering mengulang litani yang itu-itu juga dengan gaya yang menjemukan. Kontras dengan Presiden George W Bush yang tampil sebagai “konservatif yang bergairah” yang berani mengambil keputusan sekalipun sering ndableg. Itulah sebabnya rakyat AS berharap kepada Obama yang sengaja menulis judul The Audacity of Hope. “Keberanian itulah yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Semangat berharap itulah yang mengikat cerita tentang keluarga saya dengan cerita tentang Amerika dan yang mengikat cerita mengenai saya dengan para pemilih yang ingin saya wakilkan.” Masih beranikah Anda berharap lagi di negeri ini pada tahun baru 2007 nanti?
Sumber: http://www.mail-archive.com/palanta@minang.rantaunet.org/msg20329.html

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: