jump to navigation

KILAS TIA MENUJU BINTANG November 26, 2008

Posted by paspitu in Kabar dari teman.
trackback
Konser AFI2 tanggal 05 Juni 2004

Konser AFI2 tanggal 05 Juni 2004

AYAH & IBU DI SOLO “BUKA RAHASIA TIA”
Tabloid Jelita (1-7 Mei 2004)

Tia is perfect” adalah slogan yang selalu diteriakkan fans, karena memang hasil poling selalu menunjukkan Tia berada di peringkat paling atas dibandingkan dengan peserta AFI 2 saat ini. Lebih dari itu olah vokal dan penampilannya di setiap Konser AFI2 memang menonjol. Tak kurang dari seorang penyanyi sekaliber Trie Utami pun geleng-geleng kepala dan angkat dua jempol untuk kemampuan bernyanyi Tia. Performan Tia di panggung selalu membuat juri tak mampu berkata-kata.
Di rumah sempit berukuran 90 meter persegi itu Tia tinggal bersama hampir selusin penghuni. Orang tua Tia, pasangan Bambang Sutopo dan Rini Sudarwati, Brian Dwi Saputro, adik Tia semata wayang, dua tante dan lima orang keponakan. Bisa dibayangkan betapa berjubelnya tempat itu setiap hari. Rumah yang tergolong sederhana di Jl. Lampbatang Utaram Perumnas Mojosongo Solo itu terletak di sebuah gang sempit yang tak bisa dilalui mobil.
“Kami memang keluarga yang serba biasa”, kata Bambang Sutopo, ayah Tia. Musisi kawakan kota Solo tersebut, hingga kini masih ngamen di cafe-cafe bersama band B’All Star dan Exsas Band demi kelangsungan asap dapur keluarganya. “Mungkin karena kondisi seperti inilah yang membuat hati Tia tergerak. Ia sejak kecil sudah mandiri dan mencari uang sendiri untuk membiayai sekolah dan masih dalam pengawalan saya langsung. Saya dan band saya sendiri yang mengiringi dia menyanyi. Soalnya saya tetap menginginkan dia sekolah setinggi mungkin”, kata Bambang yang diamini oleh istri tercintanya.
Meskipun begitu kedua orang tua Tia bukanlah tipe orang tua yang telralu banyak mengatur. Mereka memberikan kebebasan bagi Tia untuk berekspresi dan berprestasi.”Tapi semua harus tetap dengan batas kewajaran”, imbuh Ibu Tia.
Kebebasan itu teruji ketika memasuki masa SMP Tia memutuskan untuk berpindah agama menjadi Islam. Kedua orang tuanya mendukung, dengan syarat Tia tetap tekun dan taat menjalankan ibadah.
MENDAPAT FIRASAT
Beberapa musisi Solo yang pernah bekerjasama dengan Tia menuturkan pada Jelita bahwa kualitas vokal Tia terbentuk dan matang karena dia sering menyanyi di cafe pada malam hari.

Gara-gara kedekatan dan perhatiannya pada keponakan yang kada berlebihan itulah sampai-sampai muncul gosip bahwa Tia sudah punya seorang putri berusia 1 tahun. Padahal Lala, balita lucu dan menggemaskan itu adalah anak dari Dewi Sri Handayaningsih, adik kandung ibu Tia. “Sejak lahir, bahkan semasa masih di dalam kandungan, Tia sudah sangat ingin mengadopsi anak ini”, kata Dewi sambil mencandai Lala. “Saya tahu, sebenarnya Tia jatuh iba dan hanya kasihan melihat kehidupandan kondisi ekonomi saya”. Dewi sekarang berstatus janda dengan 2 anak yang masih balita.
Menurut pengakuan ibunya, Tia yang ingin memiliki kualitas vokal dengan artikulasi yang mantap dan terjaga seperti Ruth Sahanaya ini, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan disenangi di lingkungannya. Di kampungnya Tia yang pengagum berat Mariah Carey dan Whitney Houston ini terkenal cukup ‘sampai hati’ menyumbang setiap ada acara yang diadakan di sekitar rumah. Tia tak segan-segan menyumbangkan tenaga, suara, bahkan juga uang dari sebagian honor menyanyinya yang ia sisihkan.KAMPANYE DUKUNG TIA
Keberhasilan di AFI amat ditentukan oleh perolehan suara dalam polling. Untuk itu Bambang Sutopo tidak kurang akal. Ketika sebuah café tempat Tia bekerja memajang sebuah spanduk berisi ajakan untuk mendukung Tia. Bambang pun segera berinisiatif memesan spanduk yang sama dan memasangnya di beberapa tempat strategis di kota Solo.
“Untunglah kami mendapat bantuan kemudahan dan keringanan dari Pemkot. Jadi saya hanya menyediakan spanduk saja. Pihak Pemkotlah yang kemudian memasang dan menanggung semua biaya hingga ke pajaknya.
Selain memasang spanduk, Bambang dan istrinya juga rela berkeliling dari cafe ke cafe, ke pusat pembelanjaan dan ke sekolah-sekolah untuk membagikan selebaran berisi ajakan untuk mendukung Tia lewat SMS. Dan mereka cukup berbesar hati ketika semua pihak menerima ’iklan’ itu dengan sukacita.
Ketika hendak berangkat ke Jakarta, Tia pun diajak ayahnya berkeliling untuk berpamitan sekaligus mohon doa restu. Walikota dan jajarannya adalah kunjungan pertama Tia. Disana Tia mendapat bekal wejangan dari Bapak Slamat Suryanto, walikota Solo, agar terus berjuang untuk mengkedepankan dan mengharumkan nama kota Solo.
Tia juga berpamitan di bekas sekolahnya. Di SMU Warga, Tia bahkan ikut upacara bendera hari Senin.

Setelah itu barulah kemudian Tia menuju SMPN 7, sekolah yang menurut orang tuanya amat berpengaruh menyuburkan bakat menyanyi Tia. Sejak di SMP inilah kiprah Tia di berbagai ajang lomba dan menjadi penyanyi bayaran mulai makin terlihat dan makin diakui.
Sementara di kampusnya sekarang Tia sudah dielu-elukan bak selebritis sejati. Pihak kampus bahkan menghadiahkan bebas biaya kuliah hingga nanti Tia menyelesaikan kuliahnya. Banyak harapan tertumpu di pundak Tia. Semoga nanti kota Solo akan menelorkan Tia-Tia yang lain.
Theodora Meilani Setyawati kini memang tengah menuju puncak.
“Kami pasrahkan semua pada Tuhan. Menang dan kalah sama saja. Toh yang dicapai Tia hingga saat ini pun sebenarnya sudah sangat luar biasa bagi kami. Anugerah terbesar dari Tuhan”, kata ayah Tia menutup pembicaraan.

dari: Nyata, edisi II Mei 2004

BERPRESTASI
Ketika sekolah di TK Taman Putra Mangkunegaran, Tia kecil belum menampakkan prestasinya dalam bidang tarik suara. Setelah Tia menginjak ke pendidikan dasar di SDL Kristen Banjarsari Solo dan mendapatkan bimbingan dari Sarbini, guru seni suara, bakatnya mulai nampak.
“Bu Sarbini juga mengajarkan macapat (menyanyi lagu Jawa tanpa diiringi musik-red) kepada Tia,” tutur Bambang.
Ketika duduk di kelas tiga SD, Tia diikutkan lomba macapat dalam rangka Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) tingkat kodia Solo dan meraih juara satu.
“Macapat itu sulit dipelajari. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja belum tentu bisa. Tapi Tia menguasainya dengan baik. Dia meraih juara satu dan dikirim mewakili Solo ke tingkat propinsi. Di tingkat propinsi di meraih juara dua”, aku Bambang.
Tak itu saja, dalam waktu setahun Tia masuk final dalam lomba menyanyikan jingle lagu iklan teh di sebuah stasiun radio untuk ibu-ibu dan anak-anak putri”. Dia pertama kali mengikuti kejuaraan terbuka untuk umum, saat ikut lomba jingle iklan itu”, terangnya.
Setahun kemudian, Tia keciljuga meraih juara satu lomba menyanyi dalam rangka ulang tahun Lions Club seSurakarta.
Menginjak SMP. Tia mulai mendapatkan bimbingan serius dari Bambang. Tak itu saja,
Sumarno guru seni musik SMPN 7 Surakarta juga membimbing Tia.
“Saat SMP sifat pejuang keras dalam diri Tia sudah saya ketahui. Dia sering konsultasi dengan saya. Tak pernah dia mengikuti sekolah olah vokal. Pitch control, power, dinamika dan penjiwaan Tia sudah bagus. Cuma teknik yang belum sempurna, terutama pernafasan. Saya juga membimbing bagaimana menghadapi suatu kekalahan., tutur Bambang.
“Selama SMP, Tia meraih juara di berbagai lomba. Kelas satu, Tia berhasil meraih juara 2 lomba menyanyi yang diadakan oleh YPPM Kythara Surakarta dan juara satu Kijang Pop Singer Contest. Kelas dua juara satu lomba Karaoke Bina Vocalia Sasana Gita PTPN FM”, papar Bambang.
“Setiap ada pentas di sekolahnya, Tia selalu menyanyi diiringi band sekolahnya”, tambah Bambang.

sumber: http://tiafans.widznetwork.com/kilas01.html

 

Comments»

1. herman (3B) - November 26, 2008

untuk Tia sukses dan saya juga bangga, selain alumnus SMPN 7 ayahnya Tia (Mas Bambang Cenkruk) dan Neneknya mbah Darmo rumahnya satu RT dengan saya herman priyono alias Masprie atau Goesprie. kadang kadang juga nyanyi diiringi oleh mas Bambang Cekruk dan lagi ibunya Tia ternyata satu SD dengan saya hanya beda kelas ibunya Tia (mbak Rini) SDK Banjarsari B sedangkan saya SDK Banjarsari A, oke Tia kapan sowan mbah Darmo putri lagi mampir ya jangan lupa lho….

2. nyoto - November 27, 2008

TIA lahir : 7 Mei 1982 —> 7/5/82
Saya lahir : 21 Pebruari 1963—> 21/2/63

MATHERAMAL….:

Penjumlahan:

7+5+82 = 94 penjumlahan tanggal/bulan/tahun kelahiran Tia
21+2+63= 86 penjumlahan tanggal/bulan/tahun kelahiran Saya

maka “selisih” hasil penjumlahan tanggal/bulan/tahun kelahiran Tia dg Saya : 94 – 86 = 8

Pengurangan:

21 – 7 = 14 selish tanggal lahir saya dengan ia
5 -2 = 3 selisih bulan lahir tia dg Saya
82-63 = 19 selisih tahun kelahiran tia dengan Saya

hasil perhitungan “komplex”: (19 – 14) + 3 = 8

jadi kesimpulannya: Umur saya “unda-undi” dengan umur Tia, hehehe….ilmu gathuk😛

3. Rina - November 27, 2008

Trima kasih Oom Mas Myoto saya udah gegojegan dengan Mbke Jeng Esti di Depok …. wuahhhh suenenggggggg buanget

4. herman (3B) - November 27, 2008

halo Rina data sudah dicatat? ya sudah klo sudah dicatat, btw di depok lagi musim rambutan atau mangga tolong komunitas Paspitu dikasi satu satu he..he..just joke. mana datamu Rina aku malah belum punya telp, email, oke..buat Cak Nyoto piye facebooknya koq tidak ada foto?

5. nyoto - November 28, 2008

To: Bung Herman
sik2 sing sabar bung Herman, photoku diborong kabeh ama petugas dari kebun binatang “TAMAN JURUG”, katanya photoku paling ganteng dibanding “penghuni satwa disana, hihihi….
To: Rina
Aq ikut seneng juga dech, klo main lagi ajak aq dunk!!

6. herman (3B) - November 28, 2008

Cak Nyoto sak ngertiku kebun binatange neng Wonokromo mbuh yen wis pindah..ha..ha…

7. Nyoto - November 29, 2008

To Bung Herman
Kebun binatang termasuk penghuninya msh tetep di Wonokromo, tapi justru yg sering pindah2 lokasi adl pengunjungnya…krn kena gusur !! …maklum..Tarzan Kota !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: