jump to navigation

ASPEK PENYUSUN KEPANDAIAN December 1, 2008

Posted by paspitu in Jagongan.
Tags:
trackback
Einstein 

ASPEK PENYUSUN KEPANDAIAN

A. GENETIK.

 

Salah satu aspek yang membangun kecerdasan seseorang adalah ‘genetik’ atau keturunan. Sifat diturunkan oleh orang tua kepada anak, termasuk kecerdasan. Tahun demi tahun presentasi faktor genetik terhadap kecerdasan anak berubah dan semakin diketahui luasnya berbagai jenis terapi, berbagai gizi serta lingkungan terhadap kecerdasan, maka faktor genetik tinggal 40 % saja.

Faktor genetik adalah faktor yang sudah tidak bisa diubah. Kita sudah lahir. Karena itu kita tidak akan membahas aspek ini terlalu panjang. Selain genetik, maka kecerdasan dipengaruhi oleh TERAPI, LINGKUNGAN, dan GIZI, yang kita masih bisa ubah atau pengaruhi. Ketiga faktor inilah yang akan kita bahas lebih dalam.

B. TERAPI.

 

Terapi membangun kecerdasan seseorang. Ada beberapa hal penting yg perlu kita ketahui :

Ketika seseorang lulus sarjana, maka baru sekitar 5 – 10 % saja otaknya yang terpakai, yang berhubungan dengan pelajaran.

Dalam otak manusia ada milyaran neuron yang tersambung satu dengan lainnya membangun banyak jaringan untuk banyak fungsi.

Ketika anak dimotivasi sedemikian rupa sehingga melakukan suatu hal dengan senang hati, maka sebuah jaringan baru bisa terbentuk membangun sebuah fungsi, sehingga persentasi otak yang terpakai semakin besar, anak semakin cerdas. Sehingga muncul sebuah paradigma baru, yaitu ‘bakat tidak hanya ditemukan dan dikembangkan, tetapi bisa diciptakan.’

Otak manusia, baik secara fisik maupun secara psikologis, termasuk kecerdasannya, bertumbuh luar biasa di usia 6 hingga 8 tahun dan masih bertumbuh hingga usia 18 tahun. Setelah usia 18 tahun IQ (Intelligence Quotient / tingkat kecerdasan) manusia relatif stabil hingga usia 40 tahun, setelah itu bisa menurun hingga kematiannya.

Kecerdasan emosi dan spiritual, terus berubah sepanjang hidup manusia. Berubah, karena bisa semakin baik atau semakin buruk secara emosi dan spiritual.

Karena kecerdasan bisa berubah, maka terapi merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kecerdasan seorang manusia. Berikut ini beberapa tips yang perlu :

Terapi otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri berkembang jika anak-anak dilatih untuk belajar angka, matematika, logika dan menganalisa (mis : main catur atau game komputer, dll). Otak kiri mendapat porsi terapi yang cukup melalui pelajaran akademik di dalam kurikulum pendidikan formal.

Otak kanan diterapi dengan berbagai les yang sekarang berkembang, munculnya menghitung dengan metode bayangan. (membayangkan atau imajinasi, fantasi adalah kemampuan otak kanan). Otak kanan di terapi melalui berbagai kegiatan seni, menggambar, mewarnai, musik dan hal serupa. Kebanyakan sekolah SD, SMP, dan SMA kurang memiliki program dan kurikulum dalam porsi yang cukup untuk bidang ini, karena faktor kesediaan fasilitas dan prasarana.
Sebenarnya orang tua, dengan mudah bisa mengembangkan kemampuan anak, dalam bidang-bidang yg didominasi oleh otak kanan, seperti seni, “Visual/special intelligence”, asal bisa memberikan dorongan-dorongan yg positif. Berikut adalah sebuah kisah nyata, utk lebih mengerti betapa pentingnya sebuah terapi, yaitu dlm bentuk praktisnya “memberikan dorongan yg positif”.

2. Dorongan Yang Positif.Hellen Keller (seorang guru besar, yang terkenal di dunia), lahir pada tanggal 27 Juni 1880 di Tasukambia di Alabama Amerika Serikat. Sewaktu ia berusia 19 bulan dia terjatuh di kamar mandi. Akibatnya dia buta dan tuli seumur hidupnya. Orang tuanya ingin memperlakukan Hellen seperti anak-anak normal lainnya. Akhirnya, saat Hellen berumur 7 tahun, ayahnya menyerahkan pendidikan Hellen kepada seorang guru yang datang ke rumahnya, guru itu bernama Annie Sullivan. Sullivan sangat terbeban untuk menolong orang yang cacat, dia pun hanya bisa melihat samar-samar saja karena sakit yang dideritanya pada masa kanak-kanak.

Mula-mula Sullivan mengajarkan Hellen untuk makan memakai sendok dengan cara yang rapi. Kemudian Hellen diajarkan nama tiap-tiap benda. Sullivan menuliskan b.o.n.e.k.a. dengan jarinya di telapak tangan Hellen, sementara itu ia mengajak Hellen meraba boneka yang sedang didekapnya. Berulang-ulang hal itu dilakukan. Kemudian Hellen pun menuliskan b.o.n.e.k.a. di telapak tangan ibu Sullivan.

Pada suatu hari yang cerah mereka pergi ke pompa air di halaman. Di sana ibu Sullivan memberinya sebuah gelas, lalu ditulisnya huruf g.e.l.a.s. di telapak tangannya. Setelah itu dipompanya air dan tangan Hellen diletakkannya di bawah pancuran pompa. Air melimpah menimpa tangan Hellen. Lalu ibu Sullivan menuliskan a.i.r. Kini, Hellen sadar bahwa wadah yang digenggamnya adalah gelas, dan yang dingin itu adalah air. Setelah hafal banyak kata-kata, lalu Hellen mulai belajar mengenal huruf Braille. Hellen mulai belajar tentang banyak hal yang ada di dunia yang Tadinya belum diketahuinya. Ia sekarang tahu tentang mimpi, cita-cita & kegembiraan.

Ketika Hellen berusia 10 tahun, ia masuk sekolah Horseman. Letaknya jauh dari rumahnya. Di sana ia akan belajar untuk berlatih berbicara dengan bibir. Menjelang keberangkatannya, ibunya menuliskan sesuatu di telapak tangan Hellen, “Jaga dirimu baik-baik. Maju terus ya, kami mencintaimu.” Hellen pun mengambil tangan ibunya dan menuliskan, “Saya pergi bu. Doakan Hellen ya!” Ibunya tak dapat menahan air matanya mengantar kepergian Hellen.

Di sekolah Horseman, mula-mula ia diajar metode latihan oleh Ibu Sullivan. Dengan metode itu, Ibu Sullivan memasukkan tangan Hellen ke dalam mulutnya, sehingga pada saat bicara, Hellen merasakan gerakan bibir dan lidah. Hellen lalu memasukkan tangannya ke dalam mulutnya sendiri, dan ia berusaha untuk berbicara . “Betapa inginnya ia bisa berbicara” kata Ibu Sullivan, yang terharu melihat kesungguhan Hellen. Hellen terus berlatih walau dengan susah payah. Akhirnya sedikit demi sedikit ia bisa berbicara.

Liburan musim panas telah tiba. Hellen dan Ibu Sullivan kembali pulang ke rumah setelah lama pergi. Hellen sudah rindu sekali dengan keluarganya dan suasana di rumah. Ayah, ibu serta Adiknya menantikan Hellen dengan perasaan harap-harap cemas. Begitu sampai di depan rumah
Hellen Keller
Hellen langsung mendapatkan ibunya, “Ayah ! Ibu ! Saya pulang,” teriaknya. Dari mata ibunya mengalir air mata kebahagiaan. “Hellen, panggil ibu sekali lagi.” “Ibu, Ibu!” demikian Hellen memanggil ibunya lagi.

Dalam mempelajari sesuatu, Hellen harus berusaha berkala-kali dibanding orang biasa., tapi Hellen bertekad terus. Setelah lulus sekolah dia meneruskan ke Perguruan Tinggi di Radcliffe. Ibu Sullivan menemani Hellen selama kuliah dengan cara ‘mengeja” pada tangan Hellen apa yang dikuliahkan. Singkat cerita, pd tahun 1904, setelah mempelajari bahasa Jerman, Yunani, Latin & Perancis, Hellen Keller menjadi orang buta & tuli pertama yg menguasai 5 bahasa & mendapatkan gelar sarjana. Gelar sarjana ini dia peroleh dengan gelar ‘cum laude’ (nilai sangat memuaskan).

Dia menulis 14 buku, memberikan kuliah di Perguruan Tinggi, mengunjungi Gedung Putih, dan berkeliling dunia mengunjungi 20 negara untuk orang-orang cacat tubuh seperti buta, tuli dan bisu serta memotivasi hidup mereka.

Suatu waktu, Ratu Inggris Victoria, ketika menyematkan tanda penghargaan Inggris yang tertinggi bagi orang asing, bertanya kepada Hellen Keller, “Bagaimana Anda mendapatkan pencapaian yang menonjol dalam kehidupan ? Bagaimana Anda menjelaskan kenyataan bahwa Walaupun Anda tunanetra dan tunarungu, Anda bisa mencapai begitu banyak ? Tanpa keraguan barang sesaat, Hellen keller mengatakan : “Kalau tidak ada Annie Sullivan, nama Hellen Keller tetap tidak akan terkenal.”Hellen amat berterima kasih kepada Ibu Sullivan, dan ia pun bertekad akan bekerja mengabdikan seluruh hidupnya utk orang-orang cacat seperti yg dilakukan oleh gurunya – ibu Annie Sullivan. Hellen Keller mempengaruhi berjuta-juta orang setelah kehidupannya disentuh oleh Annie Sullivan. Annie Sullivan adalah seorang yg memberikan dorongan yg positif kpd orang lain.

Bagaimana Sullivan bisa memberikan dorongan dan merubah hidup seseorang, meningkatkan kecerdasan dalam berbagai aspek mulai ‘kecerdasan berbahasa’ dan terutama ‘gambar–diri’ / kecerdasan emosi seorang cacat?

Kuncinya menurut Sullivan adalah : Memberikan ‘rewards’ atau ‘imbalan’ atau pujian untuk sebuah kemajuan kecil saja yang positif. Jangan menunggu sebuah perubahan besar dan baru memberikan pujian.

Dorongan dan pujian atau ‘rewards’ itu merupakan terapi yang luar biasa bagi seseorang, untuk melakukan sesuatu dengan senang, dan kalau seseorang melakukan sesuatu dengan senang, maka sebuah jaringan baru di otaknya bisa terbentuk, sebuah fungsi dibangun dan sebuah aspek kecerdasan dimunculkan.

Saya berikan contoh ketiga anak saya sendiri, mereka bertiga pandai main piano, padahal saya & istri tidak berbakat bermain musik, kecuali main gitar itupun sangat dasar. Namun kami memberi semangat, memotivasi dan memberikan les piano untuk ketiga anak kami, mereka hampir menyerah, tapi kami mendorong dan memberikan Impian, waktu berjalan dan terasa sangat lambat kemajuannya, tahun demi tahun, tetapi karena dimotivasi akhirnya mereka bisa menyenangi, menikmati dan sekarang mereka bertiga menjadi ‘pianis’. Saya berjumpa dengan banyak orang tua yang memiliki kasus serupa. Talenta dan bakat bukan hanya ditemukan dan dikembangkan, tetapi bisa diciptakan.

Diambil dari : Anak Cerdas Ceria Berahlak, Ir Jarot Wijanarko

(Pengusaha, pembicara, penulis buku, seniman, pendiri dan pemilik IFA Club, PT. Happy Holy Kids, dll)

 

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: