jump to navigation

TRAGEDI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN(Situ Gintung) April 16, 2009

Posted by paspitu in Jagongan.
Tags:
trackback

bencana-situ-gintung

Tuesday, 31 March 2009 10:01

Oleh: Nyoto Santoso

 Bencana dahsyat ambrolnya tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat, Provinsi Banten, Jumat dini hari lalu (27/3), akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama 5 jam,menyadarkan kita semua betapa hebatnya kerusakan lingkungan hidup di sekitar kita.

Tragedi Situ Gintung yang menewaskan ratusan orang itu menjadi peringatan bagi kita semua––masyarakat, pemerintah, dan pengusaha––agar kita tidak menganggap remeh kerusakan lingkungan dan hancurnya hutan kota,sekecil apa pun.

Apa yang harus kita cermati dari jebolnya tanggul Situ Gintung itu adalah bahwa masyarakat dan pemerintah tampaknya lupa bahwa bencana dahsyat itu terjadi bukan sekonyong- konyong, tapi sedikit demi sedikit.Betul,ambrolnya tanggul itu terjadisepertimendadak.

Tapi, harap diingat, jauh sebelum tanggul itu ambrol, kerusakan-kerusakan kecil mulai menggerogotinya tahun demi tahun, bulan demi bulan, dan hari demi hari. Bahkan warga masyarakat yang tinggal di sekitar Situ Gintung itu sendiri sudah lama merasakan adanya kerusakan pada tanggul tersebut. Mereka sudah melaporkan hal itu kepada pihak berwenang, tapi tak mendapat perhatian. Ketika ternyata laporan itu benar dan tanggul ambrol sehingga menewaskan ratusan orang, pihak-pihak yang berwenang pun saling menyalahkan. ***

Sebetulnya, ambrolnya tanggul tersebut tidak semata-mata karena faktor usia yang sudah mencapai 78 tahun, tapi juga karena rusaknya sempadan situ buatan itu. Kita bisa melihat di sekeliling sempadan Situ Gintung yang jaraknya hanya beberapa meter dari bibir air situ telah berdiri berderet perumahan, perkantoran, lembaga pendidikan,restoran, dan tempat-tempat rekreasi.

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, lokasi Situ Gintung yang rindang, sejuk,dan berair bening menjadi tempat favorit untuk rekreasi dan menikmati keindahan alam. Maka tak aneh bila di wilayah sekitar Situ Gintung berdiri perumahan, perkantoran,restoran,dan lain-lain untuk memanjakan warga Jakarta yang ingin menikmati kesegaran alam setelah seharian dilanda kelelahan,stres,dan macet di jalanan.

Dampaknya, pelanggaran terhadap lingkungan sempadan Situ Gintung merajalela dan pemerintah tampak membiarkannya. Padahal, Keppres No 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menyebutkan bahwa sempadan sungai, sempadan pantai, sempadan waduk (termasuk situ) atau kawasan sekitar waduk dan sempadan mata air (kawasan sekitar mata air) adalah daerah yang harus dilindungi dari jamahan manusia.

Kawasan-kawasan tersebut harus tetap lestari dengan vegetasi dan tetumbuhan yang ada di sekitarnya. Untuk sempadan waduk seperti Situ Gintung, kawasan yang harus dilindungi dari intervensi manusia itu

berkisar 50—100 meter dari bibir waduk saat airnya pasang (Pasal 5 dan Pasal 18 Keppres No 30 Tahun 1990).

Jebolnya tanggul Situ Gintung merupakan multiplier effect dari berbagai kerusakan lingkungan tersebut. Karena itu, untuk mencegah terulangnya tragedi Jumat dini hari itu,pemerintah tak cukup melakukan renovasi dan rekonstruksi Situ Gintung.Tapi lebih jauh lagi membenahi lingkungan sekitar Situ Gintung agar sesuai dengan Keppres 30/1990.

Itu berarti keberadaan restoran, permukiman, dan tempat rekreasi yang ada di sekitar Situ Gintung perlu ditata ulang. Jika keberadaannya masih dalam cakupan Keppres No 30/ 1990, tidak ada masalah.Tapi, jika tidak, harus ditata ulang secara radikal tanpa kompromi. ***

Tragedi Situ Gintung yang menewaskan ratusan orang dan menghancurkan rumah dan harta benda penduduk tersebut hendaknya menjadi pelajaran berharga,bagaimana sebaiknya mengelola lingkungan hidup di sekitar kita. Kita tahu, misalnya, di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetaberk) terdapat 184 situ atau danau.

Dari jumlah itu, hanya 19 situ yang dalam kondisi baik.Selebihnya rusak,bahkan ada yang telah berubah menjadi sawah dan kompleks perumahan. Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane, situ-situ itu tersebar di Kabupaten Bogor (95), Kota Bogor (6), Depok (20),Kabupaten Tangerang dan Tangerang Selatan (37),Kota Tangerang (8), Bekasi (17),dan Jakarta (15).

Di Kabupaten Bogor,dari 95 situ yang ada hanya 9 yang dalam kondisi baik, sisanya rusak meski ada beberapa yang telah direhabilitasi atau diperbaiki pada periode antara tahun 1994–2007.Situ yang masih terbilang baik adalah Situ Terate di Parung Panjang, Kadondong di Jasinga, Malasari di Nanggung, Kolam Tando di Leuwiliang, Cibuntu di Cibinong,Cipicung di Cileungsi, Lido di Cijeruk, dan Rawabangke di Jonggol.

Di Kota Bogor, dari 6 situ yang pernah ada, dua lokasi telah jadi kompleks perumahan,4 lainnya dalam keadaan rusak. Sementara di Depok,dari 20 situ yang ada,hanya satu yang baik yang Situ Pulo di Pancoran Mas,sisanya tercatat pernah direhabilitasi atau masih dalam keadaan rusak. Di Tangerang, tidak ada satu situ pun yang dalam kondisi baik, hampir semuanya mengalami pendangkalan.

Situ Gintung di Ciputat yang tanggulnya jebol Jumat (27/3) dini hari misalnya, luas danaunya menyusut dari semula 31 hektare menjadi tinggal 21,4 hektare akibat pendangkalan. Di Kabupaten Tangerang, dari 37 situ yang pernah ada,10 situ telah berubah wajah jadi sawah,bahkan ada situ seperti Situ Kwaron di Pasar Kemis yang tidak ketahuan lagi lokasinya. Di wilayah Kota Tangerang, Situ Bulakan dan Kompeni telah jadi kompleks perumahan.

Sementara di Jakarta, dari 15 situ yang ada,hanya 6 yang tercatat dalam kondisi baik, yaitu Situ Mangga Bolong, Taman Makam Pahlawan Kalibata, Taman Mini Indonesia Indah, Ragunan,Taman Ria Senayan,dan

Jambore Cibubur. Dari semua situ yang ada di Jabodetabek itu,Situ Patrasana di Kresek, Kabupaten Tangerang, merupakan yang terluas,yaitu 245 hektare (luas awal 360 hektare,sebagian telah dijadikan sawah), disusul Situ Garukgak, juga di Kresek seluas 180 hektare,dan Situ Cipondoh di Kota Tangerang seluas 142 hektare. Luas situ-situ lainnya bervariasi antara 1 sampai 50 hektare. ***

Keberadaan situ di Jakarta dan sekitarnya sebetulnya merupakan anugerah alam yang luar biasa besar manfaatnya bagi manusia.Situsitu itu muncul karena Jakarta adalah kota dataran rendah yang berbatasan dengan dataran tinggi yang curah hujannya amat besar, yaitu Bogor.

Tiap tahun,limpahan air dari Bogor dan sekitarnya (Cianjur) itu mengalir melalui sungai-sungai menuju Jakarta dan kelebihannya ditampung situ-situ tersebut. Saking banyaknya rawa di Jakarta, sampai sekarang banyak daerah di ibu kota yang masih menggunakan nama rawa seperti Rawamangun,Rawajati,Rawabuaya. Bayangkan, Rawamangun yang kini menjadi kawasan padat penduduk itu dulunya adalah rawa.

Sekarang rawa itu tak berbekas, tinggal namanya saja yang tersisa. Satu lagi,di samping namanya yang tersisa,juga banjirnya yang tersisa di kala musim hujan tiba. Begitu pula kondisi di Rawabuaya. Apa arti semua itu? Manusialah yang telah mengubah dan merusak alam. Ulah-ulah manusia itulah yang menjadikan Jakarta dan sekitarnya adalah kota banjir karena rawa-rawa yang mencegah banjir tersebut diuruk, diratakan, dan dihilangkan.

Ke depan, untuk mengatasi munculnya bahaya banjir dan kekeringan di ibu kota, seharusnya Pemda DKI dan daerah sekitarnya merevitalisasi situ-situ yang ada tersebut.Bila dirasa kurang,tidak ada salahnya Pemda DKI membuat situ-situ baru.Kota-kota besar dunia seperti Bangkok dan Shanghai, misalnya, telah lama membangun situ-situ buatan.

Situ-situ ini selain berfungsi sebagai waduk penampung air hujan, pencegah banjir, juga pelestari lingkungan. Di situ-situ baru tersebut, vegetasi asli daerah bersangkutan muncul kembali. Burung dan hewan endemik pun berdatangan lagi, seakan merayakan munculnya tempat kehidupan mereka yang telah hilang.(*)

 Penulis: Dosen Fakultas Kehutanan IPB, Bogor

Sumber: Harian Seputar Indonesia, Selasa 31 Maret 2009

Source 2:

http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/lingkungan-hidup/2774-tragedi-dan-kerusakan-lingkungan.html

Comments»

1. sandy - May 4, 2009

Barangkali terlepas dari Kolonial Belanda yang membuat bendungan itu, mohon ketegasan dari pihak Pemda Kabupaten Bogor cq Dinas Perizinan agar :
1.Tidak mengizinkan REI untuk membeli tanah pesawahan yang masih pro
duktif sehingga mengakibatkan hilangnya penghijauan dan menimbulkan
udara panas dan memperbanyak volume petir ketika hujan
2.Tidak mengizinkan REI untuk membebaskan tanah disekitar setu di wila
yah Kabupaten Bogor untuk Perumahan yang dapat merusak ekosistem
disekitarnya sehingga mengakibatkan kerusakan struktur tanah dan ber
akibat jebolnya tanggul setu tersebut seperti yang menimpa Situ Gintung

Berbekal Dana Anggaran reboisasi dan penanggulangan banjir, pemelih
araan harus tetap dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambu
ngan, bila perlu dianjurkan kepada warga setempat untuk patungan menanam ikan di setu tersebut yang dapat dijadikan peningkatan gizi protein serta sebagai komodinas dan penanggulangan ekonomi pedesaan
Semoga!

2. nyoto - May 5, 2009

Berita banjir bandang di Jakarta Jumat pagi (27/3/09) sangat mengejutkan. Dengan korban lebih dari 50 orang meninggal tentu saja ini sebuah bencana yang cukup serius terjadi di dekat Ibu Kota lagi.

……dst.
silakan cermati posting PakDhe Rovicky di:
http://rovicky.wordpress.com/2009/03/27/banjir-situ-gintung-keringkan-saja-danau-ini/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: