jump to navigation

Flu Singapura Bukan Flu April 23, 2009

Posted by paspitu in Jagongan.
Tags:
trackback

demam-berdarah

 

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebuah dering telepon menyadarkan Hardono Arifanto dari dunia Facebook-nya di negeri tetangga, Singapura. Tiba-tiba saja ia menekuni siaran berita di televisi. Tidak cukup di situ, alumni SMA Taruna Nusantara Magelang yang kini berprofesi sebagai pengembang software itu juga mencoba googling.Berbekal kata kunci “Singapore Flu”, awalnya Hardono cuma mendapat berita-berita seperti pelarangan ternak ayam Kentucky oleh Otoritas Veteriner dan Pangan-Agraris Singapura. “Ini tentu bukan berita yang membuat ayah risau,” demikian dia menulis dalam blog sodeve.net.

 

Ia terus mencari hingga akhirnya mendapati bahwa istilah Flu Singapura cuma berasal dari berita di Indonesia, tepatnya Depok, Jawa Barat. Di wilayah ini belum lama ada delapan anak yang tinggal bertetangga terinfeksi penyakit dengan gejala ruam kecil di tangan, mulut, dan kaki yang menular dengan cepat. Heboh.

“Pantas saja saya tidak bisa langsung menemukannya (ketika googling), penyakit ini sebenarnya bernama penyakit tangan, kaki, dan mulut,” katanya sambil menambahkan, “Tapi setidaknya ini menjadi kabar baik untuk orang tuaku yang kemarin menelepon karena tidak ada wabah flu yang sedang merebak di sini (Singapura).”

David Handojo Muljono, peneliti di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, juga sempat mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan label Flu Singapura itu. “Tidak tepat,” katanya.

Entah siapa yang memulai, penyakit khas pada anak ini memang sering disebut dengan Flu Singapura. Alasannya, virus didapat gara-gara bepergian ke negeri Merlin itu–yang pernah dilanda pandemik bersama beberapa negara lainnya di Asia–lalu membawanya pulang. Toh, kalaupun alasan itu diterima, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Depok Ani Rubiani mengaku sulit menentukan asal muasal penularan ketika sudah ada yang terjangkit.

Menurut Ani, belum tentu anak pertama yang terinfeksi adalah anak yang orang tuanya sering ke luar negeri. Atau menurut bahasa penjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Hardiono, “Hingga saat ini Depok belum pernah melakukan penelitian khusus mengenai hand, foot, and mouth disease.”

Hardiono beralasan, laporan tentang jenis penyakit yang menyerang saluran pencernaan–bukan saluran pernapasan seperti flu umumnya–ini tidak sebanyak kasus penyakit lain, seperti demam berdarah dengue, apalagi flu burung. Jadi, katanya lagi, “Sepengetahuan saya, belum ada penelitian tentang itu,” dia menambahkan.

Mungkin itu pula sebabnya Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia, Umar Fachmi Achmadi, menyatakan bahwa Flu Singapura termasuk new emerging disease (penyakit infeksi baru) yang virusnya belum pernah diisolasi. Tidaklah mengherankan jika pola penyebaran dan penyebabnya belum bisa diketahui secara pasti, begitu katanya.

Virus Coxsackie dan Enterovirus 71 penebar benih penyakit ini disebut oleh Umar mudah sekali bermutasi saat musim peralihan atau pancaroba, selain faktor kepadatan penduduk dan mobilitas, seperti sekarang. Masa inkubasinya seminggu dan bisa menular dengan cepat lewat udara, kotoran, dan kontak fisik di antara anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya masih cetek.

Meski Hardiono menekankan bahwa masyarakat tidak perlu takut karena penyakit ini tidak terlalu membahayakan, begitu pun keganasan virusnya di Indonesia tidak separah seperti yang di Singapura, Umar menyatakan, “Para pembuat kebijakan Indonesia sebaiknya menyiapkan langkah antisipatif untuk mencegah wabah tidak menyebar di Indonesia.”

Umar dan Hardiono serta Ani sepakat, daya tahan tubuh si anak cukup ditingkatkan dengan cara perbaikan gizi demi bisa menghalau infeksi virus ini. “Ini adalah satu-satunya cara meningkatkan kekebalan tubuh mengingat vaksinasi belum bisa dilakukan,” kata Umar.

Sisa caranya adalah setiap orang tua mesti waspada ketika melihat tanda-tanda anaknya mengalami gejala seperti demam yang melampaui 38 derajat Celsius, nafsu makan menurun karena sariawan, selain ada bintil-bintil berisi nanah di tangan dan kaki. Jika sudah terjangkit, tutup mulut dan hidung bila bersin, tidak menggunakan alat-alat rumah tangga secara bersamaan, dan yang terpenting mencuci tangan sebelum makan.

Wuragil | Tia Hapsari

 

Source:

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/04/20/brk,20090420-171243,id.html

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: